Mereka melingkar di dasar namun enggan menumpuk sebab kau masih memilih dan memilah mana yang harus kau beri pupuk. Dengan itu, kau selalu menemukan dirimu yang "baru" di tiap kata-katamu ...
Namun bila semuanya baru, konsistensi adalah abu-abu, dan kepuasan adalah tabu bagimu.
Meski begitu ...
Kau berlanjut mendirikan pilar dari sesuatu yang kau dan pemujamu setuju sejak lama tentangmu. Kau adalah pemberontak, kaulah parasol pemberi teduh untuk orang-orang pilihanmu, kau menyingsingkan lengan baju untuk mempertontonkan luka bahwa Zeus pernah menyakitimu.
Tiga pilar berasaskan kepedulian pemberontak yang diciptakan trauma, berdiri kokoh sebab bukan dirimu saja yang mengamini. Serupa Atlas, pilar-pilar itu menopang posisimu di dunia dan caramu melihatnya sejak lama. Terlepas dari alas lemas yang bisa kau ganti begitu saja.
Meski begitu ...
Langit-langit yang pilar-pilarmu topang kau buat berkisi dan berongga. Tak sepenuhnya tertutup, pun tak semua terbuka. Kau buat celah cukup besar untuk mata, namun terlalu kecil untuk membuat kebebasan menjadi nyata.
Maka kau melihat dunia tak lebih dari mampu pandangmu saja, sebab di penjara yang tercipta kau merasa aman dan dipuja. Tertulis namamu di tiap sudut pura, "HERA ... HERA ... HERA ...".
Dan aku di dalamnya ...
Tenggelam di alas kalimatmu yang tak pernah stagnan, terengah mencari udara yang tak pernah dibayar kontan. Sedangkan telingamu pekak dan kau habiskan waktu menengadah tergoda awan di antara jeruji. Kau melihat Icarus di atas sana, menutup mentari untuk bunuh diri.
Padahal aku sudah mati duluan tepat di bawah kakimu dan sorai namamu ...
22 Februari 2026. Harusnya aku umumkan hendak bunuh diri juga daripada mati bisu.
-illustration is gonna be replaced with real art from real artist when the commision's done-