Kau tak pernah melihatnya tersenyum dan seketika riuh dunia adalah hening Nebula; debu-debu kosmos berwarna-warni menyelimuti lesung pipinya dan bibir bawah besarnya yang tak pernah Ia sukai meskipun itu adalah bagian terindah darinya.



Kau tak pernah memeluknya ketika Ia menangis; serupa supernova, segala hancurnya adalah energi indah yang kau sesap habis meskipun kau ikut terbakar pada akhirnya.


Kau tak pernah melihatnya telanjang; tanpa topeng, tanpa sandiwara, Ia adalah neutron yang senantiasa mengajakmu menari dan berputar, menggelayut di orbitnya sendiri tanpa perlu didikte kanan-kiri.


Kau tak pernah melihatnya bekerja tanpa peluh dan keluh, menaruh Ibu dan adik-adiknya di kedua bahunya; sebab Ia adalah Olympus Mons, dan kita adalah manusia naif yang bangga menginjak jerawat bumi bernama Everest.


Kau tak pernah melihatnya di dalam mimpimu, membangunkanmu dengan lembut dan hangat; Ia adalah sinar mentari yang menembus atmosfer bumi, menempuh jauh merangsek dinding dan jendela kamarmu.


Kau tak pernah melihatnya seperti aku melihatnya.

8 November 2021. Ia adalah semesta, meledak mundur ke belakang.


MEMENTO VIVERE

Pasha Fatahillah is a writer and "Jack of All Trades" currently observing life from Cambodia. This manuscript is part of a decade-long evolution of thought.