Malam masih belia, lanskap kehadiran belum berpindah kepada ranjang. Kemana perginya mereka?
Perjalanan di tengah gerimis malam ini pada akhirnya punya tujuan: mengoleksi ingatan soal asap-asap.
Aku lanjut berkendara lagi menyusuri kilatan aspal yang tampak seperti pelat metal. Siapapun boleh sukarela tergelincir. Di atas, aku percaya awan masih serajin sapi perah setelah sebuah periuk logam mengepulkan asap mulianya: harum laktosa. Asap di atas cairan susu murni itu tampak seperti ibu bergaun putih yang sedang membuai anak mereka. Romansa hangat menguar sebagai aroma mulut bayi yang meluncurkan kekeh dan panggilan 'mama' sebagai kata pertama.
Tidak jauh dari sana, tampak asap yang lebih ramai datang dari segaris pemanggang sate madura. Di tangan seorang bapak-bapak, kipas anyam memporak-porandakan angin lewat. Asap di sana tak ubah sebuah pasar dengan arus datang-bubar manusia. Terasa pelik kendati aromanya semenggoda suara pedagang yang meneriakkan obral dan potongan harga.
Melewati sate madura, asap rokok sejoli pedestrian terasa memperlambat perputaran jarum jam. Tidak satupun dari mereka bicara, sehingga asap di antara keduanya lebih bebas bercakap di udara.
Aku urung melewati yang satu ini. Kucoba amati bagaimana renik air begitu ramah sehingga puntung itu tetap merah dan rambut si perempuan masih semerdeka asap rokoknya, semerdeka tarian burung-burung starling. Aku yakin ada percakapan sunyi di antara murmurasi itu. Kelak, jika salah satu di antaranya penulis, mungkin notulensi dari peristiwa malam itu berbunyi: kami memasrahkan suara dan gerak di luar tubuh kami dan tak ada yang bisa kami catat lebih kecuali, kami tidak berada dalam badai.
Badanku sudah setengah kuyup, dan terdengar suara angin merongrong perutku. Maka kuputuskan perjalanan mengumpulkan ingatan soal asap itu kuakhiri di teras sebuah minimarket. Rokok elektrik kusesap dalam, kutahan di tenggorokan, biar ia bekerja sebagaimana cairan karbol di keramik kloset. Setelah kurasai seluruh kerak tersapu, kuhembus dalam hujaman lurus dan tajam. Ke bawah, meludahi gravitasi, sebelum ia kocar-kacir bersama kalimat-kalimat prematur yang mati sunyi. Asap pungkasan yang tidak bisa menari.
Dalam perjalanan kembali, setiap manusia yang kujumpai telah bersulih rambutnya sebagai asap warna-warni. Gerakannya tidak selalu gemulai, tapi yang pasti, asap itu akan bebar bagaimanapun. Dan di dalam batok kepala itu, tungku terus terisi api.
Ishmah - Sukoharjo, 19 Januari xx26
